Sabtu, 18 Mei 2013

Cerita dari pojok .

Standard
Seseorang yang datang ke kosan saya. Ia datang bukan untuk meminta air minum seperti saat air galonnya habis. Bukan pula untuk meminta tolong membenarkan laptopnya yang sering melawak ketika disinggahi virus. Kepentingannya kali ini adalah datang dengan tanpa kepentingan.
Tanpa mengetuk pintu sebelumnya, ia masuk kamar begitu saja. Belum sempat ia duduk, ia sudah membuka percakapan dengan mengucap beberapa kata serapah. Tak lama kemudian, ia beralih dengan menceritakan bagaimana ketawadluan salah satu sahabatnya.
- Cuk, akhir-akhir ini, gue sering liat temen gue lebih demen diem di kosan daripada duduk-duduk di TIM. Lo tau ga dia ada masalah apa? -
- Dab, temen gue itu makin lama rambutnya makin panjang aja. Sampe dosennya melarang dia ikut UAS. Lu tau ga dia mau cukur kapan? -
- Kang, sejak bulan lalu, gue bingung sama kelakuan temen gue yang satu itu. Dia sering banget gigitin ujung bajunya kalo lagi diajak ngobrol sama orang. Lu tau ga dia beli baju di mana sih? -
- Bro, kemarin sore, gue juga liat, temen jalan kaki dari kosannya ke kampus, kaga liat ke depan sama sekali dia. Nunduk mulu kayak kucing kena ketapel bocah. Tawadlu banget sih dia. -
- Tawadlu matamu! Dia lagi nyariin puntung rokok bung! -

Selasa, 14 Mei 2013

Kuda Tanpa Pelana

Standard
Karyo tak bisa berbuat banyak hari ini. Ia terlalu lemah untuk menarik seutas tali yang ia kaitkan di leher Karsa. 
 ** 
Langit terlihat terlalu terik untuk beradaptasi. Angin di bulan Juni ini membawa segenggam duka dari timur. Tiupannya mampu membredeli daun-daun dari pohon randu yang sudah sebulan lebih tak mendapat siraman dari empunya. Seekor belalalang yang sedang mengerik di atasnya juga ikut gugur ke tanah. Belalang itu memaki kepada daun, lalu beberapa helai daun meneruskannya dengan menyumpah pada angin. Banyak sumpah serapah keluar dari mulut dan stomata mereka. Angin hanya melakukan tugas dari Mikail. 
Di bawah randu, Karyo sedang membereskan peralatan tukangnya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya, membuat delman. Ia hanya dibantu anak satu-satunya, Karla, kembang desa setempat yang masih belia. Istri Karyo meninggal Januari lalu, saat musim panen belum tiba. Mengenai kematian Karsi, istri Karyo, ada beberapa versi yang masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Anak-anak RT 11 bilang Karsi meninggal karena diinjak Karsa. Ibu-ibu RT 13 bilang kalau Karsi dicabik-cabik gigi Karsa. Tapi anaknya, Karla meyakini bahwa kematian ibunya karena diserang kucing besar dari hutan saat ingin melindungi Karsa. Yang jelas, kematian Karsi membuat Karyo tak lagi berani memasang pelana di punggung Karsa. 
Pertengahan September tahun lalu, saat Karyo baru saja pulang dari arena pacuan kuda, ia dihampiri beberapa petinggi partai K. Kedatangan mereka ke rumah Karyo dengan membawa dua belas koper penuh uang, dengan harapan bisa membawa pulang Karsa. Semula Karyo terhenyak dengan uang sebanyak itu. Tetapi cinta Karyo pada istrinya, Karsi, melebihi cinta Karsi pada kuda mereka, Karsa. Karsa juga mencintai Karla, putri Karyo dan Karsi. 
Di bawah randu, Karla sedang memberikan makanan kepada Karsa. Karsa tampak gelisah waktu itu. Ia tidak doyan dengan rumput kering macam pemberian Karla ini. Tetapi ia begitu mencintai Karla. Karla pun demikian, ia tak tega melihat Karsa makan rumput kering macam makanan onta. Tapi katul persediaan ayahnya telah habis. Mereka tenggelam dalam diamnya masing-masing. Tanpa Karyo.
Karyo sedang mengecek keseluruhan delman yang baru saja ia selesaikan. Ia meneliti masing-masing baut yang sudah terpasang, memastikan bahwa baut itu sudah terpasang dengan sempurna. Karyo juga tak lupa memeriksa empat senthir yang terpasang di sudut-sudut delmannya, mengisi penuh senthir itu dengan minyak tanah yang ia beli di kota minggu kemarin. 
** 
Karyo tak bisa berbuat banyak hari ini. Ia terlalu lemah untuk menarik seutas tali yang ia kaitkan di leher Karsa. Karla yang melihat ayahnya begitu lemah, segera naik ke atas delman dan mengambil alih kendali atas Karsa dan delmannya. 
Karsa, seekor kuda yang punya naluri tajam macam elang. Sebelum menjadi kuda yang ditugaskan empunya menarik delman, ia selalu berbangga karena ia adalah salah satu dari tiga kuda pacu terbaik di kotanya. Ia sangat dicintai oleh banyak orang, termasuk Karla. Karla tahu, bahwa seekor kuda akan berlari kencang tanpa keraguan jika penunggangnya punya keberanian tinggi, dan seekor kuda tak akan mau berdiri jika penunggangnya masih terlalu takut untuk menungganginya. Karla sudah hafal dengan pelbagai karakter mengenai Karsa di usianya yang masih muda. 
Sekarang, Karla menggantikan ayahnya, Karso, yang terlalu takut menarik kendali kuda dari atas delman. Ia punya keberanian lebih tinggi dari ayahnya yang masih menyayangkan jika Karsa menjadi kuda penarik delman. Tetapi Karyo dan Karla tidak punya pilihan lain. Menurut mitos di daerah Gunung Kidul, seekor kuda yang telah membunuh seseorang tidak boleh dijadikan kuda pacu. Karyo dan Karla pasrah dengan kehendak.
**
Sesore ini, Karla melepas pelana dari punggung Karsa. Lalu ia menyalakan keempat senthir di sudut delman. Karla berkeliling kampung dengan kerudung merah warisan ibunya dengan berkendara delman yang ditarik Karsa.

Kamis, 09 Mei 2013

Rabu, 08 Mei 2013

Apa kau kentut?

Standard
Jika Tuhan memperbolehkan aku untuk kentut, aku akan kentut dengan menggenggam botol kosong, lalu meremasnya, agar bunyi remasan botol itu lebih keras dari suara kentutku.
Kemudian aku akan pura-pura bertanya pada kawan di sampingku, "Apa kau kentut?", tentu saja sambil menutup hidung dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku memegang roti sobek, lalu memasukkannya ke mulut, kemudian mengunyahnya.

Jumat, 27 Mei 2011

Juwita

Standard

Aku mulai terjatuh di gerbong kereta malam yang kutumpangi saat ini. Berselimutkan asap rokok yang telah kuhisap tiga menit yang lalu, aku tak mampu lagi menahan hasratku yang tiba-tiba saja bertamu tak tahu malu. Beralaskan kegelisahan-kegelisahan dari benak yang bergairah, aku bahkan tak mampu lagi mengalunkan nada-nada yang pelan sekalipun.
Daun-daun yang terus memandangiku, membuatku malu dengan pose telanjangku. Aku juga sangat muak dengan rerumputan yang terus memelototi kemaluanku bersama nafsunya yang ingin sekali menyetubuhiku. Aku merasa bahwa diriku sangat menyebalkan bagi tanah-tanah yang mereka tumpangi. Karena daun-daun dan rerumputan itu tak mau lagi bersetubuh dengan tanah-tanah itu. Tapi mereka ingin bersetubuh denganku. “Maaf Tanah!” ucapku pelan.
***
Perempuan itu tiba-tiba saja mendekatiku. Lalu ia mulai menghembuskan nafasnya ke lubang telingaku, mengenduskan nafas pelan yang membuat bulu-bulu di leherku meradang. Aku hanya tertegun, dan sesekali kupandang ia penuh harapan. Selanjutnya ia meremas jari-jari kusutku dengan pelan, mengusap-usapkan rambut panjangnya di dadaku. Mengingatkanku pada persetubuhan kucing-kucing tetangga yang sering bermain di jendela kamarku. Perempuan itu semakin teliti membasahi setiap inchi dari tubuhku, hingga ia mulai memperkosa tubuhku. Hingga keperawananku terkoyak.
***
Entah kenapa, tiba-tiba saja aku teringat dengan lagu yang sering dialunkan oleh Bimbim tentang kereta malam. Hingga ia kuberi nama Juwita. Dan dengan panggilan dariku tersebut, ia mulai berani memanggilku dengan nama Dewangga. Walau kurasa nama itu sangat asing di telingaku, tapi biarlah, toh kami sudah sangat puas dengan permainan kami malam ini. Aku bersetubuh dengannya di kereta yang kami tumpangi malam ini.
***
Suara gertakan roda kereta yang kami dengar, mengantarkan kami pada sebuah nyanyian yang lama sekali tak kunyanyikan. Aku bahkan hampir lupa dengan liriknya. Tapi kami saat ini mulai menyanyikannya, berdua di pintu gerbong yang terbuka, hingga suara kami langsung hilang ditelan angin malam. Ia sesekali memelukku pasrah, memandang wajahku penuh asa, lalu mengecup bibirku pelan.
“Dewangga, apa yang kau tahu tentang cinta?”
“Juwita, aku bahkan tak pernah mendengar kata cinta.”
“Dewangga, lantas kata apa yang pernah kau dengar?”
“Juwita, aku sering menjadi orator saat demo di kampus, aku sering menjadi motivator di aula, aku sering menjadi khatib di Masjid, bahkan aku sering menjadi pemandu sorak di festival tahunan sekolah dulu. Jadi aku sangat hafal dengan semua kata yang pernah ada. Tapi aku berani bersumpah, kalau aku tak pernah mendengar kata cinta.”
“Dewangga, lantas dengan kata apa aku harus menyatakan cintaku?”
“Juwita, aku saat ini sangat familiar dengan kata Mati.”
“Dewangga, haruskah aku menyatakan cinta dengan mengucapkan kata mati?”
“Entahlah.”
***
Udara malam ini membuat dadaku sesak tidak karuan. Sesekali udara itu masuk melalui lubang kiri hidungku, dan sesekali udara itu keluar melalui lubang kanan hidungku. Nada-nada dari nyanyian yang kami nyanyikan tadi sudah lenyap entah lari kemana. Yang kudengar hanya bunyi raungan sambungan gerbong yang meneriakkan sesuatu yang tak dimengerti oleh semua orang. Juga rintihanku yang menahan sedikit rasa sakit di leherku.
Otakku mulai dingin, mataku mulai rabun, hidungku mulai tersumbat, mulutku mulai menganga, tanganku mulai kaku, tubuhku mulai menggigil tak tentu. Aku mulai tak sadarkan diri. Tetapi satu hal yang saat ini kusadar, bahwa ia telah membunuhku.
“Terimakasih Juwita, telah mengenalkanku kata cinta”
“Terimakasih Juwita, memberiku kesempatan bersetubuh dengan tanah”
“Aku bahagia”